Sejarah Singkat Pondok Pesantren Mambaul Ulum Jembrana, Jadi Ponpes Tertua di Pulau Bali
--
Setelah pertemuan itu, KH. Ahmad al-Hadi bersama dengan Datuk Hasan berpamitan untuk pulang. Datuk Hasan sangat kagum akan kealiman sosok yang diutus Kiai Kholil tersebut. Kepada dialah, pedagang Muslim ini mempercayakan pendidikan anak-anaknya. Mereka pun menjadi santri pertama KH. Ahmad al-Hadi di Bali.
Baca juga: Nonton Donghua Martial Master Episode 345-346 Sub Indo, Aksi Pertarungan Semakin Memanas
TGH Muhammad meninggal dunia. Bersama kaum Muslimin setempat, Datuk Hasan meminta KH. Ahmad al-Hadi untuk menggantikan posisi almarhum sebagai pemuka Muslim Jembrana.
Sejak itulah, beliau kemudian menetap di Kampung Timur Sungai, wilayah setempat, untuk mengajarkan ilmu agama. Pada mulanya, aktivitas dakwahnya dipusatkan di Masjid Bait al-Qadim.
Datuk Hasan memandangnya seperti anak sendiri. Segala kebutuhan hidup KH. Ahmad al-Hadi pun disokong sepenuhnya. Murid Syaikhona Kholil itu sudah menjadi bagian dari penduduk Loloan yang mayoritasnya bersuku Bugis-Melayu.
Setelah setahun bermukim di Kampung Timur Sungai, KH. Ahmad al-Hadi dapat mendirikan pondok pesantren. Lembaga itu kini telah berkembang menjadi Pondok Pesantren Manba’ul Ulum.